Beberapa waktu terakhir, aku sering khawatir melihat tetangga yang perlahan-lahan harus kehilangan jari demi jari, kaki demi kaki, akibat komplikasi diabetes. Rasanya berat melihat kehidupan seseorang yang dulu sehat harus berubah drastis hanya karena penyakit yang seharusnya bisa dicegah. Aku terus saja terbayang-bayang saat aku masih kecil, beliau merupakan salah satu orang yang ikut momong.
Aku terus saja bertanaya-tanya, apakah diabet menyerang secepat itu? Seolah beliau tiba-tiba saja jari kelingking kakinya melepuh, diamputasi... berulang. Sedih, wajah yang dulu selalu tersenyum ramah, kini layu.
Sejak saat itu, aku sering membaca terkait diabet. Apakah ia bisa dicegah? Apakah ia penyakit keturunan ataukah karena pola hidup?
Dokter Rudy Kurniawan, Mengedukasi dari Media Sosial
“Diabetes bukan sekadar penyakit orang tua. Pola makan, aktivitas fisik, dan gaya hidup sehat sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius di masa depan."
Ujar dr Rudy Kurniawan dalam ruang Instagram Sobat Diabet. Ah iya aku lupa cerita. Dr Rudy Kurniawan adalah penggagas Sobat Diabet yang menjadi sahabat bagi diabetesi. Diabetesi adalah orang dengan diabet, entah karena keturunan, entah juga karena hal lain.
Beliau aktif mengedukasi di ruang publik. Di ruang live Instagram hingga pertemuan-pertemuan offline. Aku tidak menyanagka bahwa ruang bahasan diabet sangat luas dan dalam.
Peran dr. Rudy bukan sekadar memberi ceramah. Beliau membimbing anak muda dan komunitas untuk memahami diabetes sejak dini, mulai dari gejala, gaya hidup sehat, hingga cara mencegah komplikasi. Beliau juga merancang program interaktif, seperti “3 Days Challenge Sobat Diabet”, agar edukasi tidak hanya teori tapi bisa langsung diterapkan.
3 Days Challenge adalah salah satu Challenge instagram, dimana Sobat Diabet mengajak followernya untuk mengedukasi orang lain melalui konten gaya hidup sehat dalam pencegahan diabet.
Selain itu, beliau menjadi penghubung antara diabetesi dan masyarakat luas, membuka dialog lewat Instagram Live, sharing session offline, hingga workshop edukatif. Beliau selalu menekankan bahwa edukasi diabetes harus tersampaikan dengan empati, sehingga diabetesi merasa didengar, didukung, dan tidak sendirian dalam perjuangannya.
Aku jadi sadar, peran dr. Rudy di Sobat Diabet lebih dari sekadar dokter; beliau menjadi teman dan penggerak komunitas. Dari satu akun Instagram, satu kelas offline, sampai ribuan relawan, beliau menularkan semangat peduli dan mencegah diabetes sejak muda.
Sobat Diabet: Dari Belajar ke Aksi Nyata
Di Sobat Diabet Academy, anak-anak muda dari berbagai latar belajar banyak hal, diantaranya:
- Gejala dan tanda awal diabetes, supaya bisa mencegah komplikasi serius.
- Gaya hidup sehat, mulai dari pola makan, olahraga, hingga manajemen stres.
- Menyampaikan edukasi dengan empati, agar teman, keluarga, dan komunitas bisa memahami pentingnya pencegahan sejak muda.
Dinobatkan Menjadi Salah Satu Tokoh Inspiratif Astra
Aku terharu ketika mengetahui bahwa Sobat Diabet dinobatkan sebagai Pemenang SATU Indonesia Awards 2023 tingkat provinsi DKI Jakarta oleh Astra. Penghargaan ini menegaskan bahwa kepedulian, jika konsisten dan nyata, bisa menggerakkan banyak orang.
Harapan yang Menular
Sobat Diabet kini hadir di Jabodetabek, Yogyakarta, Bali, Papua, dan kota-kota lain. Para relawan muda menyelenggarakan edukasi, cooking class sehat, live Instagram, kampanye #hands4diabetes, dan program “3 Days Challenge” untuk mengajak masyarakat bergerak.
Aku jadi berpikir: jika tetanggaku mulai memahami risiko diabetes sejak muda, mungkin komplikasi yang mereka alami bisa dicegah. Dan itu membuat hatiku hangat—karena aku bisa ikut menolong dengan edukasi, bukan hanya doa. Aku membagikan edukasi Sobat Diabet kepada tetanaggaku, juga anak-anaknya. Agar pengobatan dan pencegahannya dilakukan dengan menyeluruh.
Bergerak dari Langkah Kecil
Kisah dr. Rudy dan Sobat Diabet membuatku sadar: kepedulian dimulai dari langkah kecil. Dari postingan Instagram, kelas edukatif, hingga relawan yang bergerak di komunitas.
Aku percaya, setiap dari kita bisa menjadi “Sobat” bagi orang lain. Aku bisa mulai dari menyadari risiko, berbagi informasi, atau mengikuti challenge sederhana seperti “3 Days Challenge Sobat Diabet”. Semua itu membantu menanamkan gaya hidup sehat sejak muda—dan bisa menyelamatkan nyawa.
Selain itu, beliau juga menginisiasi Gerakan Gulali, sebuah gerakan sosial yang menggabungkan edukasi dan praktik nyata. Di acara Gulali, seorang educator membawakan materi terkait pengolahan makanan ramah diabetes serta pencegahan diabetes. Tidak hanya itu, terdapat juga games seru untuk menemani keseruan di tengah hari puasa, dan acara diakhiri dengan memasak bersama menu sehat untuk berbuka puasa.
Beliau menjadi penghubung antara diabetesi dan masyarakat luas, membuka dialog lewat Instagram Live, sharing session offline, workshop edukatif, serta Gerakan Gulali. Beliau selalu menekankan bahwa edukasi diabetes harus tersampaikan dengan empati, sehingga diabetesi merasa didengar, didukung, dan tidak sendirian dalam perjuangannya.
Karena pada akhirnya, pencegahan sejak muda bisa membuat perbedaan besar—dan aku punya kesempatan untuk menjadi bagian dari harapan itu.







